Listrik pada dasarnya menjadi kebutuhan hidup manusia saat ini. Umumnya listrik banyak digunakan untuk keperluan penerangan, menonton televisi, mencuci, memasak, hingga kebutuhan produksi industri. Di Indonesia sendiri listrik dikelola oleh lembaga negara yang disebut dengan PLN. Pada pemanfaatannya, listrik di indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu listrik subsidi dan non subsidi. Lalu apa yang menjadi perbedaan dari dua jenis listrik ini? Simak penjabarannya berikut ini.

Apa Sih Bedanya Listrik Subsidi dan Non Subsidi

3 Perbedaan Listrik Subsidi dan Non Subsidi yang Wajib Diketahui

Sebagaimana diketahui bahwa listrik di indonesia di kelola oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pada pengelolaannya listrik ini dibagi menjadi dua golongan, yaitu listrik subsidi dan listrik non subsidi. Kedua jenis listrik ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, hanya saja ada beberapa perbedaan padanya. Berikut empat perbedaan pada listrik subsidi dan listrik non subsidi yang waji diketahui.

1. Mendapatkan Keringanan Biaya

Perbedaan pertama dari listrik subsidi dan nonsubsidi adalah tentang biaya listrik yang dibebankan. Listrik bersubsidi diketahui memiliki biaya yang lebih ringan, sebab mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Sementara listrik non subsidi tidak mendapatkan keringanan biaya yang membuatnya cenderung sedikit lebih mahal. Namun hal itu tidak akan menjadi persoalan, sebab listrik subsidi digunakan oleh kalangan yang mampu.

2. Peruntukkan Penggunaan

Perbedaan kedua dari dua jenis listrik ini adalah peruntukkan penggunaannya. Listrik non subsidi digunakan untuk keperluan rumah tangga yang tergolong mampu, keperluan bisnis, hingga instansi pemerintahan. Sementara listrik subsidi hanya digunakan bagi keluarga kurang mampu. Tentunya ada kriteria khusus untuk dapat menggunakan listrik jenis ini.

3. Perbedaan Daya Listrik yang Diberikan

Perbedaan berikutnya antara listrik subsidi dan listrik non subsidi terletak pada daya yang diberikan. Listrik pada jenis subsidi ini diketahui hanya memiliki daya 900 VA dan tidak lebih dari 1000 VA. Sementara jenis listrik yang tidak mendapatkan subsidi memiliki daya yang beragam, mulai dari 900 VA, 1300 VA, 2200 VA, hingga ada yang 6.600 VA.

Ditengah perbedaan yang ada di atas, maka sebetulnya hal itu hanya bentuk dari perhatian pemerintah dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Hanya saja selama ini listrik subsidi dianggap belum sepenuhnya tepat sasaran. Lantaran masih ada masyarakat yang tergolong mampu menggunakan listrik bersubsidi. Tentunya hal ini menjadi beban tersendiri bagi pemerintah, sehingga munculah wacana untuk menghapuskan listrik subsidi dengan ketentuan tertentu. Oleh sebab itu, mari kita gunakan listrik yang sesuai dengan kondisi keluarga yang sebenarnya.

Demikianlah tadi beberapa perbedaan dari listrik subsidi dan listrik non subsidi. Tentunya pemilihan pemakaiannya dapat disesuaikan dengan kondisi perekonomian. Jika memang merasa mampu, maka gunakanlah listrik jenis non subsidi. Namun jika kenyataannya tergolong kurang mampu, maka ada baiknya menggunakan listrik subsidi.